Rabu, 19 Juni 2013

My Lady(Cerita3)

Cerita 3(Kecelakaan)


Setelah aku berlari keluar dari sekolah, aku tidak sadar, aku berhenti di tengah jalan. Kulihat mobil besar yang ada di depanku ingin menabrakku. Souta yang ada di belakangku menolongku, tetapi tidak berhasil, kita berdua kecelakaan. Kupikir, biar saja aku kecelakaan dan mati, tapi untungnya aku belum mati. Semua murid sekolah keluar, Ryosuka dan Rui membawaku dan Souta ke rumah sakit, terutama sahabatku, mereka sangat panik.
Beberapa jam kemudian, hari telah malam, aku dan Souta akhirnya sadar. Orang tuaku, sahabtku Ryosuka, Rui dan orang tua Ryosuka datang untuk menjengukku. Sepertinya aku kehilangan semua memori yang kuingat. Hanya beberapa hal yang kuingat. Yakni, aku pernah berpacaran dengan Namito yang adalah Souta, orang tuaku dan sahabtku. Saat terbangun, nama yang kusebutkan hanya 1, SOUTA.
“ Souta?? Dia dimana??” Kataku.
“ untuk apa kamu mencarinya??” Kata Ryosuka.
“ kamu siapa?? Dan kenapa kalian ada disini?? Yang kutau hanya mama dan sahabatku” Kataku.
“ Ibu, karena kecelakaan itu, Amika kehilangan semua memorinya, kita kasih tau aja ya??” Kata Ryosuka kepada orang tuanya.
“ Ia” jawab orang tuanya.
“ Nama kamu Amika, kamu tunanganku, bulan depan kita akan menikah. Kamu keluarga grup terkaya dan terkenal di Jepang. Kamu lahir di Jepang” Kata Ryosuka kepadaku.
“ dan, namaku Ryosuka, dan ini orang tuaku” Kata Ryosuka menunjuk ke orang tuanya.
“ kalian tidak bercanda kan?? Bu, itu benar??” Kataku kepada Ibu.
“ ia, itu benar. Kamu mengalami kecelakaan dan lupa ingatan” Kata Mama.
“ tapi Souta dimana??” Kataku.
“ dia ada di kamar sebelah” Kata ibu.
“ Bu, Souta baik-baik saja kan??” Tanyaku.
“ ia Amika, dia baik sekali” Kata Ibuku.
“ sekarang aku ingat sedikit, aku kecelakaan karena aku marah dengan Ryosuka karena dia memanfaatkanku untuk menjadi pewaris, itu kata Rui. Dan aku berjalan keluar dari sekolah. Aku pikir, biar saja aku mati, tidak ada orang yang tulus sama aku kecuali mama, sahabat dan Souta.
“ Souta??” Kata orang tua Ryosuka.
“ Ia, Souta. Dia ternyata mantan aku sebelum 1 minggu aku tunangan dengan Souta, dulu namanya Namito.” Kataku.
“ kamu ingin menikah dengan Souta??” Kata orang tua Ryosuka dengan nada aneh.
“ tidak,” Jawabku singkat.
“ 1 bulan lagi kamu akan menikah, jadi jaga kesehatanmu ya?” Kata sahabatku. Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk.
Setelah kecelakaan itu, aku malah menjadi dingin, tidak cerwet, itu semua karena aku lupa siapa aku. Beberapa hari di rumah sakit, membuatku lebih dekat dengan Souta. Dia selalu membuat aku ceria. Jika bersamanya aku tidak pernah menangis ataupun marah.
Beberapa hari kemudian, aku sudah bisa pulang. Orang yang menjemputku adalah Ryosuka. Saat dia memasuki kamar tempat aku dirawat. Dia melihatku sedang bersama Souta. Ryosukapun masuk.
“ Amika, kamu sudah bisa pulang” Kata Ryosuka.
“ Ia.. aku akan pulang” Kataku singkat.
“ kamu kenapa tidak cerewet lagi??” Tanya Ryosuka.
“ tidak ada apa-apa, katanya mau pulang??” Kataku.
“ Ia, Souta, Kita pulang dulu ya??” Kata Ryosuka.
“ jaga Amika baik-baik” Kata Souta. Ryosuka tidak menjawab, melainkan pergi dan membawaku.
Setelah aku pergi dari rumah sakit, perjalanan dimobil, aku mengobrol dengan Ryosuka.
“ apa aku menyukaimu??” Kataku.
“ apa??” Kata Ryosuka bingung.
“ apa aku menyukaimu??” Kataku mengulangi.
“ tidak. Kamu tidak menyukaiku.” Kata Ryosuka.
“ tapi, kenapa aku merasa aku menyukaimu? Tolong jangan berbohong” Kataku.
“ aku tidak tau pasti, Cuma waktu lalu kamu bilang kamu suka aku, tapi sepertinya kamu suka Souta.” Kata Ryosuka.
“ Ryosuka, kamu bisa membantuku?” Kataku.
“ apa??”. Aku tidak menjawab, aku membisikinya suatu hal. Kuharap dia bisa mengerti. Dia sempit terkaget tapi aku berkata.
“ jangan kaget. Kamu tidak perlu kaget.” Kataku.
Setelah sampai di rumah, aku terdiam. Membayangkan bagaimana kehidupanku yang dulu, membuat aku pusing tidak menentu. Aku mencoba mengingat semua kehidupanku, tapi tidak bisa. Ryosuka yang menatapku dari belakang, akhirnya datang ke hadapanku.
“ apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan di mobil??” Kata Ryosuka.
“ ia, setelah aku pikir-pikir. Aku menginginkan hal itu. Kamu bisakan??” Kataku.
“ aku akan usahakan, tapi aku gak yakin. Sebenarnya,,,, eh, gak jadi.” Kata Ryosuka pergi.
Setelah dia pergi, aku memasuki ruang kamar dan berisirahat. Beberapa jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tidak menjawab, aku tidak ingin diganggu. Sebab, aku merasa lain dengan pribadiku sendiri. Tapi, orang yang mengetuk pintu itu, memasuki kamarku sendiri, setelah kulihat, ternyata Souta.
“ Souta?? Kenapa kamu ada disini??” Kataku.
“ aku hanya ingin bersamamu” Katanya.
“ tapi kamu masih harus di rumah sakit”
“ tidak perlu, aku sudah merasa sehat” Kata Souta. “ aku merasa sehat karena kamu Amika. Sayangnya, aku tidak bisa menjadi tunanganmu dan calon suamimu.” Kata Souta dalam hati.
Setelah Souta memasuki ruang kamarku, ia meletakkan bunga di vase bunga yang ada dimeja sebelah tempat tidurku. Tadinya aku sempat tersenyum, tapi aku teringat perkataan Ryosuka yang bilang sebenarnya,,,, tapi tidak jadi.
“ kamu tau Rosuka sedang kenapa?? Kenapa kelihatannya tadi dia begitu tegang???” Kataku.
“ kamu gak tau? Kamu kan tunangannya?? Dia pergi ke Korea beberapa menit yang lalu.
“ apa?? Tanpa mengajakku??” Kataku bengong.
“ tapi, setelah dia pergi, kamu juga harus pergi ke Amerika 2 hari lagi. Dan, orang tua Ryosuka memintaku untuk menemanimu.” Kata Souta.
“ kenapa kamu?? Kenapa bukan Ryosuka??” Kataku.
“ Ryosuka ada tugas sendiri. Kalau mau kamu bisa menghubunginya.” Kata Souta.
“ gak perlu. Dia juga tidak membicarakan keberangkatannya denganku” Kataku.
“ terserah kamu saja. Aku pergi dulu. Sampai bertemu 2 hari kedepan.” Kata Souta.
“ ia.” Kataku singkat. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Sepertinya ini karena Ryosuka. Apa Ryosuka mengetahui keberangkatanku?? Dan sampai kapan dia di Korea. Dan sampai kapan juga aku di Amerika.
2 hari kemudian, Ryosuka belum juga kembali. Padahal, aku akan segera berangkat 30 menit lagi ke Amerika. Kenapa aku harus memiliki calon suami seperti dia?? Sangat tidak baik.
“ Souta, sampai kapan Ryosuka di Korea? Dan sampai kapan aku harus di Amerika??” Kataku.
“ 2 minggu lagi Ryosuka kembali, dan kalau kamu 3 minggu lagi.” Kata Souta mengangkat tasku.
“ tunangan macam apa itu yang meninggalkanku sendiri seperti ini” Kataku.
“ Amika, kamu sudah kembali cerewet. Apa kamu meningat hal yang lain?” Kata Souta.
“ ya. Rui yang menyebabkanku kecelakaan. Memangnya dia pikir siapa dia?? Sok tau banget. Tapi apa betul Ryosuka memanfaatkanku?? Apa benar?? Kalau benar. Aku akan batal menikah dengannya.” Kataku marah.
“ sudah kubilang, kamu kembali cerewet.” Kata Souta membukakan pintu untukku masuk ke mobil dan berangkat ke bandara.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di bandara. Tepat saatku untuk masuk ke pesawat. Aku berjalan terus menuju pesawat dan menunjukkan passport. Setelah itu, aku memasuki pesawat dan berangkat. Didalam pesawat, wajahku pucat, dan murung. Souta yang duduk disebelahku akhirnya meminjamkan bahunya untukku.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aku yang tertidur di bahu Souta akhirnya terbangun. Pesawat akan mendarat 1 jam lagi. Aku memasuki WC, membasuh wajahku dengan air yang mengalir keras di keran. Teringat olehku Ryosuka, sedang apa di sekarang? Aku merindukannya.
Setelah membasuh wajahku, aku pergi kembali ke tempat dudukku. Kulihat wajah Souta sudah cerah. Pramugari yang cantik mendatangiku sambil membawakanku sarapan. Aku memakannya, entah kenapa, wajahku tidak bisa ceria. Wajahku malah pucat tidak karuan. Souta akhirnya berkata kepadaku.
“ kalau kamu makan, dengan wajah ceria ya?? Aku tau kamu lagi pikirin Ryosuka, tetapi kamu juga harus bahagia. Gak semua hidup itu tergantung oleh Ryosuka. Ingat, kamu itu pewaris grup. Ok??”
“ Ok. Kamu benar, mungkin juga aku gak usah menikah dengan Ryosuka. Aku gak sanggup menjadi pewaris itu. Ruilah yang pantas.”
“ kamu lebih cantik dari Rui, setauku kamu juga lebih ceria dari Rui, lebih baik dari Rui. Kamu kurang apa lagi???”
“ aku bukan kurang. Tapi aku kekurangan”
“ kekurangan apa??”
“ kekurangan cinta dari Ryosuka.” Kataku. Suasana sempat hening beberapa menit. Souta menatapku dengan mata menandakan kesedihan.
“ kamu gak perlu kaget atau apapun, now and forever, aku akan tetap disisimu. Sebagai ipar.” Kataku.
“ aku gak mau sekedar ipar. Aku mau kamu menjadi istriku.” Kata Souta.
“ Souta? Kamu ngomong apa?? Kamu bergurau” Kataku kaget.
“ seandainya kamu tau, aku yang harus bertunangan dan mempersunting kamu. Bukan Ryosuka. Kalau bukan karena papaku meninggal, kamu sudah menjadi milikku.” Kata Souta.
“ lupakanlah. Itu memang takdir.” Kataku.
“ apa kamu tidak mau meninggalkan grup itu?? Kamukan benci dengan grup itu??? Aku mohon, jadilah manusia biasa dan menjadi milikku.” Kata Souta memgang tanganku. Orang di sekitar kursiku melihatku. Mereka pasti tau aku adalah tunangan Ryosuka.
“ Souta, disini banyak orang. Mereka pasti mengetahui kita. Dan mungkin saja ada paparazzi. Aku mohon lepaskan aku. Ok??” Kataku.
“ jawab pertanyaanku dulu.” Kata Souta.
“ aku tidak mau….” Perkataanku berhenti karena seseorang memotretku dengan keadaan berpegangan tangan dengan Souta. Tetapi, Souta malah memelukku. Aku takut berita ini akan menyebar dan membuat orang tua Ryosuka marah.
“ Souta. Lepaskan aku, kamu tidak sadar ada paparazzi?? Aku mohon lepaskan aku!!!” Aku marah dan melepaskan pelukn Souta. Suaraku yang keras membuat banyak orang menoleh kearahku. Akhirnya aku mengambil Koran dan menutupi wajahku. Aku tidak tau apa yang terjadi di Koran besok.
Pesawat akhirnya mendarat. Aku turun dari pesawat. Ternyata, didepan pesawat ada 5 orang wanita dan laki-laki yang menyambutku. Ternyata itu adalah orang yang ditgaskan untuk menjagaku selama aku di Amerika.
Setelah itu, mereka mengantarku ke apartemen. Membereskan barangku dan membuatkanku cemilan untuk ku santap serta membuatkanku air hangat untuk mandi pagiku. Wow, aku sangat tercengang.
Setelah bersiap-siap, aku berjalan-jalan sampai malam. Aku teringat kembali kejadian di peswat. Karena tidak mau memikirkan macam-macam, aku akhirnya pulang tepat pada pukul 9 malam. Setelah sampai, aku tertidur pulas. Baru kali ini aku tidak memikirkan Ryosuka.
Keesokan harinya, para pelayan menungguku didepan pintu. Aku bingung, setelah kubuka. Koran yang dipegang salah satu pelayan, dihadapkan ke wajahku. Foto itu, Souta dan aku. Apa yang harus kulakukan??? Beberapa saat kemudian, telfon berdering, orang tua Ryosuka menyuruhku segera pulang. Sepertinya aku akan dimarahi.
Setelah perjalanan menuju Tokyo kembali, aku sampai tepat pukul 7 pagi. Begitu kubuka pintu rumah, orang tua Ryosuka berdiri didepan pintu.
“ maafkan aku. Itu semua adalah kesalah pahaman. Aku betul-betul menyesal.” Kataku kepada orang tua Ryosuka.
“ Amika, ingat, sebentar lagi kamu akan menikah. Jangan membuat masalah. Baiklah, keputusan akhirnya terungkap. Lusa, kamu akan menikah dengan Ryosuka. Dan kamu Souta, berhenti bersama Amikalagi.” Kata orang tua Ryosuka.
“ Baik.” Kata Souta singkat.
“ Tapi, Ryosuka akan kembali minggu depan. Bagaimana ini??” Kataku.
“ besok Ryosuka akan pulang. Bersiaplah untuk perkawinan kalian.” Kata orang tua Ryosuka masuk ke dalam rumah kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar